Eloknya Danau Tes Lebong yang Berkabut Misteri Klasik

Lebong, adalah salah satu kabupaten yang mendiami Provinsi Bengkulu. Banyak hal menarik yang akan Readers temui jika berjalan-jalan disini. Lokasi Lebong masih sangat asri sebab Lebong cukup jauh dari hiruk-pikuk Ibu Kota terdekat. Ada satu objek wisata yang sangat populer di kalangan masyarakat maupun pelancong luar, yakni keberadaan Danau Tes yang sangat indah namun penuh dengan misteri. Misteri apakah itu ? Mari kita bahas bersama, ya Readers



Danau Tes atau dalam bahasa Rejang kerap disebut sebagai Bioa Têbêt Lai dan Danêu Tes ini adalah salah satu dari sedikit danau terbesar yang ada di Provinsi Bengkulu. Nama danau ini dulunya bermula dari banyaknya pohon tes yang menghasilkan buah yang lezat dan ranum seperti mangga, namun memiliki ukuran yang cukup kecil. Dahulu, pohon tes banyak hidup subur di tepian danau ini, sebab itulah lama kelamaan penduduk lokal menamai danau ini berdasarkan tanaman yang banyak penduduk ditemui di sekitarnya. Ciri khas dari masyarakat Rejang adalah, mereka suka menamai sesuatu berdasarkan tanda-tanda alam. Danau Tes sendiri merupakan 'induk' dari sebagian besar sungai memikat yang berada di bawahnya seperti Sungai Ketahun serta anak-anak sungainya lainnya. Danau yang memiliki luas sebesar 750 hektare ini membentang di lereng pegunungan Bukit Barisan dengan ketinggian 500mdpl, dengan kedalaman rata-rata 10 M dan maksimal mencapai 56 M. Jadi tidak heran apabila air dari Danau Tes ini sangat jernih dan dingin menyegarkan. Karena berada tepat dibawah Bukit Barisan yang menjulang tinggi, Danau Tes layak mendapatkan curah hujan yang cukup tinggi sepanjang tahun. Dimana Intesitas hujan dalam setahun mencapai 2.700-3.500 mm, dengan jumlah bulan basah lebih banyak terjadi dibandingkan dengan bulan kering, loh Readers.


Pemandangan perbukitan di sekitar danau ini kebanyakan tutupan oleh hutan, baik itu hutan pinus atau hutan buatan, ya Readers. Nah, ada juga berhektare-hektare perkebunan yang telah dibuka oleh warga lokal dari membabat sebagian tubuh bukit barisan. Tanaman yang dibudidayakan oleh masyarakat lokal biasanya kopi. Karena dianggap terlalu besar, Danau Tes akhirnya dibagi menjadi enam blok, yakni berupa blok perlindungan, pemanfaatan, tradisional, khusus, religi, dan rehabilitasi. Pembagian kawasan ke dalam blok-blok bertujuan agar dapat mengakomodasi kepentingan warga yang sejak lama mendiami daerah sekitar danau di satu sisi serta menjaga kelestarian alam kawasan di sisi lain.


Jika Readers ingin kesini, danau tes terbentang di antara dua buah dusun adat suku Rejang, yakni Dusun Adat Kutei Donok (Desa Tengah) dan Dusun Adat Tes. Dimana, posisinya persis berada di tepi jalan lintas Curup-Muara Aman. Nah, untuk menuju lokasi Danau Tes ini, Readers membutuhkan waktu sekitar satu jam perjalanan jika dari Kecamatan Muara Aman. Danau ini berjarak sekitar 25 kilometer dari Kecamatan Muara Aman, pusatnya Kabupaten Lebong. Namun, apabila Readers melakukan perjalanan dari Kota Curup, maka Readers membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam baik menggunakan sepeda motor maupun mobil, ya Readers. Sedangkan dari Bandara Fatmawati Soekarno Readers dipastikan akan menempuh perjalanan yang cukup panjang, yakni sekitar 2,5 - 3 jam yang melewati kabupaten Bengkulu Tengah, kabupaten Kepahiang, kabupaten Rejang Lebong. Namun, kabar baiknya adalah saat ini pembangunan infrastruktur tol kota Bengkulu - Lubuk Linggau (tol trans Sumatera) sedang berjalan. Jadi, apabila sudah tol ini sudah bisa di gunakan, maka jarak tempuh Bandara Fatmawati Soekarno hanya akan memakan waktu sekitar 1 - 1,5 jam saja. Sedangkan dari Bandara kota Lubuk Linggau Sumsel tanpa tol hanya menempuh 1 - 1,5 Jam, Tol ini akan memperpendek waktu tempuh Readers sekitar 30 - 60 menit, ya.


Danau Tes juga termasuk dalam mata pencarian warga lokal. Di danau itu, warga lokal biasanys dapat mencari ikan dengan cara seperti menggunakan pancing, jala, bubu, jaring, mengacea (mancing di air deras), tajua (pancing yang dipasang malam hari), menyuluak (mencari ikan di malam hari dengan peralatan lampu petromak, tombak ikan bermata tiga (trisula) dan menggunakan perahu) dan sebagainya alat penangkap ikan khusus masyarakat Kotadonok dan sekitarnya. Jika Readers datang waktu siang hari, maka pemandangan yang akan Readers lihat selain keindahan Danau Tes adalah banyaknya masyarakat lokal yang mencari ikan di tengah Danau menggunakan ketek maupun perahu kecil. Namun, jika hanya mencari ikan dengan peralatan kecil, biasanya warga lokal hanya berada di pinggir-pinggir danau. 


Sangkin besarnya, Danau tes yang elok ini mampu menampung setidaknya 21 spesies ikan dari 12 famili di danau ini, sehingga menjadikannya Danau Tes sebagai daerah dengan tingkat keanekaragaman ikan sedang. Sebagian besar ikan yang hidup dan tinggal di danau ini merupakan ikan air tawar, terutama anggota dari famili Siprinide, yang meliputi ikan sêpdok (Puntius binotatus), ikan mas (Cyprinus caprio), kêba'êu (Hampala macrolepidota), kan putiak (Tor douronensis), palau (Osteochilus hasseltii), Rasbora brigittae Vogt., Rasbora argyrotaenia, Lobocheilos bo, kan tidin (Glyptothorax platypogonoides), serta Nemacheilus spiniferus. Kemudian, ada juga Ikan air tawar lain yang sering ditemukan oleh masyarakat lokal seperti sidat (Anguilla marmorata Benn), gupi (Poecillia reticulate), dan kepala timah (Aplocheilus panchax).Spesies-spesies menarik ini datang ke Danau Tes untuk mencari makanan, memijah, serta mengungsi dari kualitas lingkungan di hilir sungai yang semakin memburuk. SAda juga ikan rawa, seperti sêpêt siam (Trichogaster pectoralis), sêpêt cer (Trichogaster tricopterus), kan wên (Channa striata), bujuk (Channa lucius), puyu (Anabas testudineus), limbek (Clarias batrachus), tiluk (Macrognathus maculates) dan ikan nila (Oreochromis niloticus). Beberapa spesies di atas yang terancam kelestariannya, terutama Tor douronensis dan Anguilla marmorata Benn. Maka dari itu, pemerintah daerah sepertinya perlu turun tangan membuat peraturan daerah (perda) tentang pelarangan manangkap ikan dengan menggunakan pukat harimau dan menggunakan alat sentrum listrik.


Di sepanjang jalan di tepi Danau Tes sepanjang 5 km yang jalannya merupakan jalan utama di Kabupaten Lebong, dapat Readers lihat betapa indahnya panorama Danau Tes. Di sana juga ada tempat wisata terkenal bernama Pondok Lucuk (Pondok Runcing). Dimana penamaan pondok ini mengikuti bentuk bangunan yang sejak zaman kolonial, yakni memiliki bentuk atap seperti kerucut. Luas bangunan sekitar 6x6 meter. Ada banyak pedagang yang membuka lapak di pinggiran danau, disini Readers bisa menikmati kopi panas khas Lebong yang di panen dan di produksi sendiri oleh warga lokal, ada juga berbagai camilan khas, salah satunya adalah kerupuk kijing dan Pujuak Lebong yang menggoda.


Tak melulu di-'eksploitasi' menjadi tempat objek wisata, Danau Tes ternyata merupakan pusat Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di Bengkulu. Saat ini PLTA Tes sanggup mensuplay energi listrik sampai Sumatera Bagian Selatan, loh Readers. Daya listrik yang dihasilkan PLTA Tes 18.960 KW. Dibangun sejak tahun 1912-1923 oleh Kolonial Belanda dan tahun 1986-1991 mulai diperbarui

.

Namun, beragam kecantikan yang dimiliki oleh Danau Tes, ada kabut misteri yang hingga saat ini masih menjadi cerita rakyat yang melegenda. Dari banyaknya cerita itu yang paling terkenal adalah keberadaan ular kepala tujuh yang mendiami Danau ini.


Kisah ini berasal dari cerita rakyat tentang Kerajaan Kutei Rukam yang pernah ada di Kabupaten Lebong. Dikisahkan, Hidup seorang Raja Bikau Bermano yang merupakan pemimpin kerajaan Kutei Rukam yang sempat dibuat kalang kabut oleh ular berkepala tujuh. Dimana Gajah Meram, sang putra mahkota tiba-tiba menghilang saat menjalani prosesi upacara mandi bersama calon istrinya, Putri Jinggai di Danau Tes. Singkat cerita, akhirnya Gajah Merik, sang adik Gajah Meram berhasil menyelamatkan kakaknya yang ternyata disembunyikan ular kepala tujuh, yang tak lain adalah sang penunggu danau. Kemenangan itu didapati setelah Gajah Merik bertarung dengan ular hingga memakan waktu hingga tujuh hari tujuh malam lamanya. Setelah berhasil memenangkan pertarungan, Gajah Merik tidak membuhuh ular berkepala tujuh tersebut, loh Readers.


Dalam cerita rakyat yang sangat melegenda itu, sang Ular masih dibolehkan bersemayam di dasar danau dengan syarat, Ia tidak boleh mengganggu masyarakat.  Dan terjadi kesepakatan diantara mereka, Tetapi sang ular sempat mengajukan permintaan akan tetap mengganggu masyarakat yang berbuat tidak senonoh di Danau Tes. Orang yangdimaksud sang ular adalah orang berniat merusak ekosistem di Danau Tes. Di masyarakat, ular berkepala tujuh itu dipercaya bersembunyi di singgasananya yang posisinya berada persis di bawah Pondok Lucuk. Oleh karenanya saat ini masyarakat sekitar Danau Tes sangat menjunjung etika ketika berada di danau itu. Hingga tumbuh kepercayaan di masyarakat sekitar bahwa siapapun yang berkunjung ke Danau Tes dilarang keras berbicara sembrono atau takabur alias sombong. Rumornya, siapapun yang bertemu dan melihat ular tersebut akan menemui ajal seketika. 


Tapi sebenarnya, kisah ular berkepala tujuh itu sengaja ditanamkan oleh para tetua dahulu agar masyarakat di sekitar Danau Tes tidak berlaku sesuka hati. Khususnya para orang tua yang ingin melarang anaknya mandi di Danau Tes karena khawatir tenggelam, mengingat kedalam Danau Tes sangat dalam.Tak heran legenda ular berkepala tujuh itu hingga saat ini masih terus terjaga dan menyebar turun temurun.