Gunung Patah Bengkulu Selalu Berhasil Mematahkan Semangat Para Pendaki !

Pernah lihat vlog Fiersa Besari saat Ia mendaki gunung Patah ? Semua kegiatannya selama di Gunung Patah terabadikan melalui unggah pribadi Fiersa Besari di semua platform media sosial miliknya, termasuk Youtube. Fiersa mengatakan bahwa pendakian yang Ia lakukan di gunung tersebut adalah sebagai pendakian tersulit yang pernah Ia lakukan. Apakah Readers penasaran tentang bagaimana trek sesungguhnya yang dimiliki oleh Gunun Patah ? Dari pada penasaran, lebih baik Readers kupas tuntas saja, ya.



Gunung Patah adalah gunung berapi yang mendiami kawasan hutan lindung Rajamendara yang masuk dalam pengelolaan KPH Kaur, Dinas Kehutanan Provinsi Bengkulu. Ia memiliki vegetasi hutan hujan tropis yang sangat lebat, dan subur, ya Readers. Gunung Patah terletak di sebelah timur Gunung Dempo di Sumatra, Indonesia, atau lebih tepatnya pada perbatasan Provinsi Sumatera Selatan dan Provinsi Bengkulu. Nah, apabila Readers ingin mendaki Gunung ini, Readers harus melakukan perjalan selama  6-7 jam perjalanan, ya Readers. Dengan titik awal pendakian yakni Readers harus menggunakan kendaraan sejauh 200 kilometer menuju Desa Manau Sembilan, Kecamatan Padang Guci, Kabupaten Kaur. Dari sini, bisa Readers lihat jika kondisi sekeliling masih berupa kebun masyarakat lokal yang datar dan terang benderang, bertanda bahwa lokasi pertanian ini cukup jauh dari pepohonan. Setelah melewati batas antara kebun warga dan hutan, situasi seketika berubah drastis, Readers akan mulai memasuki perkarangan pendaki. Tidak ada lagi wilayah yang dengan mudah disusupi oleh sinar matahari karena Readers akan mulai memasuki hutan hujan tropis yang rapat dan lebat. 


Karena masuk dalam golongan hutan hujan tropis yang pohon-pohonnya masih sangat rapat dan lebat, Gunung Patah memiliki pastinya memiliki curah hujan yang tergolong tinggi, terutama apalagi jika Readers gegabah dan mendaki pada saat memasuki musim penghujan. Dalam sehari semalam, hujan turun di Gunung Patah bisa mencapai durasi 14 jam lamanya, bisa Readers bayangkan mengarungi pepohonan lebat ditemani oleh hujan yang turun tiada henti ?

Track Gunung Patah merupakan jalur rintisan. Sehingga, Readers maupun pendaki lain wajib berpedoman dengan GPS karena harus membuka jalur dengan menerobos banyaknya ranting dan pepohonan yang menutup jalur yang akan Readers lewati, hal ini menandakan bahwa dari kaki gunung saja, gunung Patah pun masih dalam kondisi tak tersentuh. Terdapat beberapa papan petunjuk namun tak berarti perjalanan akan mudah, ya Readers. Namun, jika Readers tak ingin mendaki dari Kaur, Readers bisa mendaki dari  3 jalur pendakian lainnya seperti melalui Semende Darat Ulu (Muara Enim) dan Lahat melalui Provinsi Sumatera Selatan, sedangkan jalur melalui Provinsi Bengkulu dapat di akses melalu Desa Manau IX Kecamatan Padang Guci, Kabupaten Kaur, nih Readers. Nah, berdasarkan kesepakatan bersama Forum Sabuk Gunung Patah, yang merupakan perintis jalur pendakian ke Gunung Patah baik via Bengkulu (Padang Guci) atau dari via Sumatera Selatan (Lahat, Semende, dan Pagaralam) bahwa pendakian ke Gunung Patah sangat diwajibkan untuk menggunakan jasa pemandu gunung dikarenakan:


  • Yang pertama, karena rute perjalanan yang akan Readers lalui itu sangatlah panjang, belum lagi Readers akan di gempur dengan berbagai macam rintangan seperti medan alam, kontur maupun hutan hujan yang terlampau tropis nan lebat, yang membuat kemungkinan besar Readers maupun para pendaki akan tersesat jika tidak di lengkapi dengan navigasi yang baik, ya.
  • Cuaca alam tak tentu. Ingat, ya Readers, bahwa Readers akan memasuki hutan hujan tropis yang artinya hujan itu sudah seperti makanan harian. Sekalipun Readers melakukan pendakian di musim kemarau sekalipun, apabila Readers tidak mempunyai persiapan yang maksimal, maka kemungkinan besar Readers akan kesulitan selama perjalanan.
  • Vegetasi yang masih tak tersentu sebab ini merupakan kawasan lindung. Belum lagi reders akan berhadapan dengan banyaknya ekosistem yang luar biasa beragam sehingga banyak satwa liar tentunya menjadi ancaman besar bagi Readers, apalagi ada beberapa kawasan kaki gunung Patah yang telah beralih menjadi ladang para petani sehingga tak jarang bahwa wilayah kaki gunung Patah kerap kali terjadi konflik manusia dengan hewan buas.

Layaknya namanya, gunung Patah. Gunung ini sering mematahkan semangat para pendaki yang ingin menjamahnya. Hal ini karena gunung Patah yang memiliki jalur yang sangat menggila Saking ekstremnya jalur ini. Meski gunung Patah hanya memiliki ketinggian 2.582 mdpl, tidak setinggi gunung lainnya, namun gunung ini memiliki jalur pendakian terpanjang kedua di Pulau Sumatra setelah Gunung Leuser di Aceh dan Sumatra Utara, ya Readers. Hal ini dampak dari hutan lebat yang masih terisolir, seolah tak pernah tersentuh, banyaknya tumbuhan yang subur dengan lumut tebal, belum lagi Readers akan bertemu dengan kawah aktif yang mengeluarkan asap yang sedikit beracun, serta air kawah yang berwarna biru. Sebab dari keadaan gunung Patah inilah yang membuat perjalanan sedikit lebih panjang. Bahkan, ada beberapa pendaki yang berhasil menaklukkan puncak gunung Patah dengan waktu selama 7-10 hari, loh Readers.


Selama memijakkan kaki di gunung Patah, Readers benar-benar akan dibuat terkagum dengan segala hal yang dimiliki oleh gunung Patah. Terutama di bagian tanaman langka yang hidup disini. Trek yang melelahkan benar-benar di bayar tunai dengan sejuta pesona yang telah gunung Patah sediakan. Cantik namun mematikan, itulah istilah yang benar-benar pantas untuk gunung eksotis ini. Hal karena yang boleh mendaki gunung ini adalah seorang pendaki yang memiliki jam terbang yang tinggi, atau seorang profesional, ya Readers. Kemampuan Readers selama di gunung Patah sangat mempengaruhi harapan Readers di sini. Bahkan ada beberapa jalur yang harus Readers lewati dengan menggunakan tali atau webbing, ya. Bagi Readers yang tak pernah melakukan webbing di jalur pegunungan, ada baiknya jika Readers berlatih terlebih dahulu. Karena salah melangkah sedikit saja, Readers potensi besar untuk terpeleset yang bisa membuat kaki atau tangan cedera parah karena terhantam oleh bebatuan maupun pepohonan yang runcing. Jangan pernah meremehkan jalur ekstream yang gunung Patah persembahkan untuk Readers.


Namun, dibalik semua kesusahan yang Readers lewati, Gunung Patah yang masih terjaga keasriannya ini ternyata menyimpan hidden gems yang akan jadi bonus untuk setiap langkah yang telah Readers terobos hutan lebatnya. Salah satunya adalah Readers akan bertemu dengan Danau Tumutan Tujuh. Meskipun memiliki sungai di berbagai titik, namun tetap saja saat Readers melihat penampakan danau ini, Readers sungguh seperti melihat oase di tengah gurun pasir. Yang kedua adalah Readers akan bertemu dengan kawah aktif Gunung Patah. Walaupun gas belerang yang dimuntahkan kawah ini kadang sangat tebal dan menyengat hingga menutupi jarak pandang, tapi pesona kawah ini benar-benar bikin Readers mati kutu. Readers akan menemukannya sesaat sebelum Readers tiba di puncak Gunung Patah. Dan yang terakhir adalah puncak gunung Patah. Jangan pernah Readers mengharapkan akan menemukan keindahan seperti gunung Rinjani, karena puncak gunung bukanlah tujuan utama, tapi ketika pendaki berhasil mendaki hingga titik paling tinggi di gunung yang pendaki daki. Sebab kondisi puncaknya adalah masih berupa hutan lebat sehingga Readers tidak akan berada di momen romantis seperti bisa melihat sunrise ataupun lautan awan, ya.


Jadi jika Readers ingin mendaki di gunung yang anti-maenstream, silahkan taklukkan gunung Patah saja. Namun jangan pernah berharap bisa menemukan akhir yang indah, ya seperti hamparan daratan yang luas atau semacamnya, karena gunung ini memang 'dirancang' khusus untuk para pendaki sejati. Yang mendaki dengan tujuan menaklukkan, bukan mencari keindahan. Happy weekend and see yaaa...