Klasik di Tengah Kota Modern : Masjid Jamik Bengkulu

Selain pantai dan keindahan alamnya yang membuat pelancong ingin mengunjungi Bengkulu, ternyata banyak juga yang bermain ke Bengkulu untuk mengunjungi situs-situs spiritual yang berdiri di tanah Rafflesia. Salah satu yang paling terkenal yakni, Masjid Jamik Bengkulu. Masjid yang satu ini sangat populer di kalangan pelancong sebab memiliki sejarah yang cukup menantang. Apakah Readers penasaran ? Ayo kita bahas Masjid Jamik Bengkulu.

Dahulu kala, Masjid Jamik Bengkulu hanyalah sebuah bangunan kecil yang sering disebut penduduk lokal dengan sebutan Surau Lamo. Nah, posisi awal masjid ini ada di Kelurahan Bajak, yakni di sekitar lokasi makam pahlawar nasional Sentot Alibasyah Prawiradirja (panglima perang laskar Pangeran Diponegoro). Namun, tepat di awal abad ke-18, Masjid Jamik Bengkulu dipindahkan ke lokasi tempat masjid sekarang berdiri.  Diawal berdirinya bangunan ini, bentuk bangunan masjid masihlah terbuat dari kayu dan atap rumbia, loh Readers. Ditambah dengan lantai yang masih sangat sederhana.  Pendiri masjid Surau Lamo ini adalah Daeng Makulle, seorang Datuk Dagang dari Tengah Padang.


Saat bermain ke Bengkulu, Readers akan melewati masjid ini. Masjid Jamik Bengkulu sendiri adalah masjid yang memiliki sejarah panjang di Kota Bengkulu. Sebab, Masjid Jamik Bengkulu termasuk dalam salah satu karya seni arsitektur Soekarno selama Beliau menghadapi masa pengasingan di Bengkulu. Arsitekturnya sangat unik, Soekarno berani 'mengawinkan' dua unsur suku yang berbeda, yakni Masjid ini memiliki corak arsitektur Jawa dan Sumatra. 


Cerita ini berawal dari warga lokal yang menganggap bahwa masjid ini butuh sebuah perbaikan, pada saat yang sama pula Soekarno bersedia membantu masyarakat dengan cara merancang arsitektur untuk masjid jamik. Awal perencanaan, Soekarno meminta persetujuan kaum-kaum berpengaruh di sana. Walaupun mendapat perlawanan dari para tetua, namun akhirnya Soekarno berhasil mewujudkan rancangan arsitektur Masjid Jamik Bengkulu. Dana pertama yang di gunakan untuk pembangunan masjid ini didapat dari swadaya masyarakat setempat, sedangkan material bangunannya didatangkan dari Desa Air Dingin, Kabupaten Rejang Lebong dan Ketahun di Kabupaten Bengkulu Utara. Sebenarnya, struktur bangunan masjid ini tidak banyak yang di ubah, loh Readers. Bahkan, ada sebagian struktur masjid masih dipertahankan oleh Bung Karno, kecuali dinding dan lantai, ya. Dimana masing-masing ditinggikan 2 dan 30 meter. Kemudian juga yang dirancang oleh Soekarno adalah bagian atap dan tiang masjid. Jika Readers memasuki masjid, Readers akan melihat Atap masjid yang bertumpuk dan bertingkat tiga, yang tentu saja memiliki filosofi yang sangat dalam, yakni melambangkan iman, Islam, dan Ihsan. Selain itu, atap masjid juga tersusun dengan aksen tekukan dan memiliki hiasan berupa kemuncak. Atap masjid yang menjulang tinggi turut melambangkan "keagungan Tuhan", dengan atap serta ruang plafon dibuat cukup tinggi seolah-olah menyentuh langit. Karena arsitekturnya-lah selain terkenal dengan nama "Masjid Jamik Bengkulu", masjid ciamik ini juga terkenal dengan nama 'Masjid Bung Karno'.


Kemudian jika Readers melihat ke bagian dalam masjid, Readers akan menemukan ada pilar dihiasi dengan ukiran motif ayat-ayat Al-Qur'an. Bagian atas pilar masjid memiliki pahatan berbentuk sulur yang dicat warna kuning gading. Kemudian, disampingnya terdapat tiga pilar berjejer dengan ornamen kayu di bagian kepala pilar masjid. Nah, pilar terbesar ini memiliki ukuran sekitar 40x80 cm. Lalu, Readers akan mihrab dengan ukuran panjang 2,5 m dan lebar 1,6 m. Di sisi kanan mihrab terdapat mimbar yang dibuat dengan gaya Istanbul. Mimbar ini terbuat dari pasangan batu bergaya Istanbul, dengan atap kubah seng alumunium berjumlah dua buah. Mimbar dilengkapi dengan empat anak tangga.


Masjid Jamik Bengkulu memiliki tiga bangunan inti yang saling menyatu, nih. Dimana, bangunan ini terdiri atas inti, serambi, dan tempat wudhu. Bangunan inti masjid sendiri berukuran 14,65 x 14,65 m dan memiliki tiga pintu masuk. Kemudian, serambi masjid yang berbentuk persegi panjang sebanyak empat buah dengan ukuran 11,46 x 7,58 m. Serambi ini turut ditopang dengan tiang kuning berbentuk segi delapan. Dan yang terakhir adalah tempat wudhu. Tempat wudhu di masjid ini terbuat dari pasangan batu dengan fondasinya adalah batu karang. Tempat wudhu sendiri memiliki ukuran sebesar 8,80 x 5,55 m.


Sekedar informasi, ya Readers bahwa terhitung hingga saat ini, Masjid Jamik Bengkulu sudah tiga kali mengalami renovasi. Yakni saat tahun 2000, dimana area masjid mengecil setelah penambahan jalan di sekitar masjid. Kemudian, berlanjut ke 4 tahun setelahnya atau di tahun 2004, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI menetapkan Masjid Jamik Bengkulu sebagai bangunan cagar budaya. Ditambah dengan penetapan ini diperkuat dengan Undang Undang No. 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya.


namun, meskipun sudah menjadi bangunan cagar budaya, Masjid Jamik Bengkulu masih aktif digunakan baik warga lokal maupun pelancong untuk beribadah maupun hanya sekedar beristirahat. Masjid yang luas dan sejuk ini benar-benar membuat para pengunjung betah berlama-lama di sekitaran masjid. Ditambah masjid yang bersih dan luas sangat memberikan rasa nyaman untuk para pengunjung, ya Readers.


Berkat transformasinya yang cukup signifikan, Masjid Jamik Bengkulu menjadi lebih dari sekadar tempat ibadah, karena ini adalah landmark historis yang menggabungkan warisan, arsitektur, dan kepedulian komunal dalam satu lokasi. Keterlibatan Soekarno dalam renovasi masjid ini tidak hanya meninggalkan jejak arsitektural yang khas tetapi juga menginspirasi nilai-nilai kebersamaan dan ketahanan masyarakat Bengkulu. Bukan lagi hanya sekedar pusat spiritual bagi umat Islam di Bengkulu tetapi juga sebagai pengingat pentingnya mempertahankan dan merayakan warisan budaya melalui inovasi dan adaptasi.


Jika Readers ingin beribadah atau sekedar mengunjungi Masjid yang sarat akan sejarah ini, Readers bisa mengikuti rute terdekat yang akan Writer berikan. Jika Readers berangkat dari Kota Bengkulu menuju Masjid Jamik Kota Bengkulu, waktu yang Readers butuhkan untuk mencapai Masjid Jamik Bengkulu adalah sekitar 4 menit dengan jarak 1,4 kilometer. Adapun penjelasan mengenai rute-nya lebih lanjut sebagai berikut:

  • Pertama, Readers perlu mengambil ke arah barat di Jl. Jendral Sudirman menuju Jl. Sudirman II.
  • Lalu, silahkan Readers putar balik dan terus ke kanan untuk melanjutkan perjalanan di Jl. M.T. Haryono, ya.
  • Kemudian, belok ke kanan dan belok lagi ke kanan untuk kedua kalinya menuju Jl. M.T. Haryono.
  • Nah, disini Readers akan melewati Sancaka Cell sekitar 400 meter ke depan.
  • Selanjutnya, belok ke kiri setelah Readers berhasil melewati Restoran Sederhana Masakan Padang yang terletak di sebelah kanan jalan.
  • dan.. TADA.... Readers pun tiba di Masjid Jamik Kota Bengkulu dan tujuan Readers berada di sebelah kanan jalan, ya.
Atau jika Readers tidak ingin ribet, Readers bisa menggunakan layanan taksi atau ojek online yang tersedia, ya. Jadi, Readers tidak akan ribet lagi untuk memutar-mutar jalan.


Ada beberapa hal yang harus Readers ingat saat mengunjungi cagar budaya Masjid Jamik Bengkulu ini seperti perhatikan busana yang akan Readers pakai saat akan mengunjungi masjid cantik ini. Usahakan menggunakan pakaian yang tertutup, apabila Readers melanggar, sebelum masukpun Readers sudah terlebih dahulu di usir oleh jamaah masjid, ya. Kemudian, jangan membuang sampah secara sembarang sebab setiap titik tertentu di area masjid telah disediakan kotak sampah yang sedia menampung seberapa banyakpun sampah yang Readers miliki. Dan yang terakhir, usahakan untuk tidak membuat keributan, jika ingin beribadah Readers bisa mematikan nada ponsel terlebih dahulu agar tidak mengganggu jamaah yang sedang beribadah.


Harap selalu bijak dalam berbuat, ya Readers. Meskipun ini adalah bangunan cagar budaya, namun fungsi utama dari bangunan ini adalah tempat beribadah. Jadi, tunggu apa lagi segera kunjungi masjid dramatis namun spiritualis ini sekarang juga. Happy weekend, readers. See yaa...