Ribuan History di Perut Museum Bengkulu

Readers ! 

Apa ada yang tahu jika kata museum itu berasal dari bahasa Yunani ? Nih, penjelasan singkat tentang kata " museum ". Secara etimologis kata museum berasal dari bahasa latin yaitu "museum" ("musea"). Aslinya sih dari bahasa Yunani “mouseion” yang merupakan kuil yang dipersembahkan untuk Muses (9 dewi seni dalam mitologi Yunani), dan merupakan bangunan tempat pendidikan dan kesenian, khususnya institut untuk filosofi dan penelitian pada perpustakaan di Alexandria yang didirikan oleh Ptolomy I Soter 280 SM. Namun, Definisi museum berdasarkan konferensi umum ICOM (International Council Of Museums) yang ke-22 di Wina, Austria, pada 24 Agustus 2007 menyebutkan bahwa Museum adalah lembaga yang bersifat tetap, tidak mencari keuntungan, melayani masyarakat dan perkembangannya, terbuka untuk umum, yang mengumpulkan, merawat, meneliti, mengomunikasikan, dan memamerkan warisan budaya dan lingkungannya yang bersifat kebendaan dan takbenda untuk tujuan pengkajian, pendidikan, dan kesenangan. Gitu ya Readers.



Apabila Readers adalah penduduk lokal Bengkulu, pasti sudah tidak asing lagi dong dengan museum yang satu ini, Museum Bengkulu. Museum Bengkulu atau Museum Negeri Bengkulu ini sering di jadikan referensi bagi sebagian sekolah baik itu, SD,SMP dan SMA bahkan tak jarang juga mahasiswa/i sebagai tempat study tour. sebab, Museum Bengkulu sendiri merupakan tempat penyimpanan koleksi benda-benda bersejarah dan adat budaya dari masing-masing suku yang ada di Bengkulu, ya Readers. Salah satu contohnya seperti koleksi pakaian pengantin dan pakaian adat, alat-alat rumah tangga, senjata tradisional, bentuk-bentuk rumah adat, tulisan huruf Ka ga nga dan peninggalan-peninggalan masa prasejarah, mulai dari masa peradaban batu sampai perunggu. Ada juga peninggalan kerajinan kain tenun yang terdiri dari kain tenun masyarakat Enggano dan aneka jenis motif kain besurek lainnya, menarik bukan.


Museum Bengkulu memiliki visi misi yang sangat bermanfaat loh untuk pemuda/i maupun pendidik, pasalnya visi museum ini bertekad untuk melestarikan dan menginformasikan sejarah, budaya yang mencerahkan sikap berbudaya. Adapun misi yang harus Museum Bengkulu wujudkan adalah Melestarikan dan mengembangkan warisan sejarah budaya daerah yang mencerahkan sikap berbudaya, Menjadi pusat studi dan rekreasi sejarah budaya yang informatif dan inspiratif . Meningkatkan penyajian informasi koleksi yang mencerahkan dan mencerdaskan kehidupan berbudaya yang kreatif, inofatif, apresiatif, dan imajinatif. Meningkatkan sarana dan prasarana museum dan kualitas pemeliharaan, penyimpanan, dan pendokumentasian koleksi berbasis IT. Mengembangkan sikap profesional SDM Museum dan meningkatkan mutu pelayanan yang proporsional.


Awal mula Museum Bengkulu ini dibangun pada tahun 1978.Namun, museum ini baru beroprasi 2 tahun setelahnya, yakni di tanggal 3 Mei 1980 dan diresmikan oleh Drs. GBPH Poeger. Posisi utama museum ini sebenarnya adalah di Benteng Marlborough. Akan tetapi 3 tahun setelahnya, tepatnya pada 3 Januari 1983 museum ini menempati gedung baru di Jalan Pembangunan nomor 8 Padang Harapan.


Apabila Readers adalah seorang pelancong dan membawa kendaraan pribadi, Readers akan sedikit kesulitan menemui lokasi museum cantik ini. Namun, jangan bersedih hati, ya. Writer akan memberikan rute arahan terdekat dari Kota Bengkulu, waktu yang akan Readers ditempuh adalah sekitar 15 menit perjalanan dengan jarak 6,3 kilometer. Nah, adapun rutenya sebagai berikut, ya :


  • Pertama, Readers perlu mengambil Jl. Jendral Sudirman dan Jl. Soekarno Hatta ke Jl. Lintas Barat Sumatera/Jl. S Parman.
  • Kemudian, Readers ambil arah barat di Jl. Jendral Sudirman menuju Jl. Sudirman II.
  • Belok ke arah kanan menuju Jl. Letkol Sentosa dan Readers akan melewati Dinas Sosial Kota Bengkulu di sebelah kanan jalan, ya.
  • Selanjutnya, belok ke kanan dan tetap berada di Jl. Letkol Sentosa.
  • Belok ke kiri menuju Jl. Soekarno Hatta dan belok lagi ke kiri untuk tetap berada di jalan tersebut Readers.
  • Ketika Readers melewati bundaran, silahkan ambil jalan keluar ke 3 menuju Jl. Lintas Barat Sumatera/Jl. S. Parman.
  • Disana, Readers akan melewati Dimas Buah sekitar 2,3 kilometer ke depan.
  • Selanjutnya, Readers akan melewati bundaran kembali dan ambil jalan keluar ke 2 menuju Jl. Pembangunan.
  • Belok kanan ke Jl. Musium. Lalu, belok ke arah kiri dan belok ke kiri untuk kedua kalinya.
  • Readers akan tiba di Museum Bengkulu yang letaknya di sebelah kiri jalan. Selamat mencoba, ya.

Museum ini cukup menarik, nih Readers. Sebab Museum Bengkulu menempati bangunan yang berarsitektur rumah tradisional Melayu Bengkulu, yakni Bubungan Lima. Dimana bentuk Bubungan Lima ini sendiri mempunyai model seperti rumah panggung yang ditopang oleh beberapa tiang penopang Readers. Interior untuk museum ini lebih memilih untuk menggunakan material kayu medang kemuning baik dari dinding maupun sampai ke bagian plafon. Warna kayu yang dipilih pun terbilang lumayan gelap dan sangat kontras dengan warna lantai keramiknya sehingga museum ini dapat memberikan kesan hangat dan betah berlama-lama untuk berjalan mengitari setiap bagian museum.


Museum Bengkulu memiliki dua ruangan pameran, yakni ruang Pameran Tetap dan Pameran Temporer. Kemudian disetiap koleksi Museum baik yang dua dimensi atau tiga dimensi turut diberikan penjelasan mengenai koleksi tersebut , ya. Jadi Readers jangan takut kebingungan. Penjelasan pun disajikan dalam bentuk panel tulisan yang mudah untuk Readers pahami yang berupa  keterangan tentang benda tersebut, meski untuk beberapa koleksi hanya ada penjelasan yang terbilang cukup singkat.


Disini , Readers akan menjumpai 126 koleksi naskah kuno yang hingga kini tidak diketahui identitas penulisnya. Sejauh ini, sudah ada sepuluh di antaranya berhasil diterjemahkan ke dalam bahasa indonesia. Nah, isi dari koleksi naskah kuno ini lumayan beragam seperti berisi pantun, sejarah dan wejangan yang berumur puluhan bahkan sudah menyentuh ratusan tahun, loh Readers. Kemudian, selain naskah kuno, Museum yang mendiami lahan seluas 9.974 m2 ini juga memiliki koleksi kain tradisional. Salah satunya adalah Kain Besurek, yakni kain yang terbuat dari bahan katun (teknik pembuatannya seperti kain batik). Kain Besurek memiliki motif seperti huruf kaligrafi Arab. Namun, motif-motif ini tidak menjalin kata sehingga tidak dapat dibaca. Ada yang menarik di Museum Bengkulu yakni hadirnya  mesin cetak Drukkey Populair dengan merek Golden Press. Tahun pembuatan Mesin cetak buatan Amerika Serikat adalah tahun 1930. Drukkey Populair inilah yang kerap kali digunakan oleh Pemerintah Indonesia untuk mencetak uang merah. Uang merah merupakan sejenis Oeang Republik Indonesia (ORI) yang berfungsi sebagai alat tukar menukar yang sah, khusus di wilayah Bengkulu.


Museum Bengkulu berisi 6000 koleksi loh yang sebagian diperoleh dari berbagai daerah baik di Bengkulu maupun di luar Bengkulu. Koleksi tersebut dibagi dalam beberapa kategori, yakni :

  • Koleksi biologi: koleksi yang terkait dengan disiplin ilmu biologi
  • Koleksi etnografi: benda-benda budaya atau perangkat sehari-hari yang digunakan pada masa lampau atau digunakan sampai sekarang.
  • Koleksi arkeologi: kumpulan benda peninggalan purbakala atau masa prasejarah yang biasanya ditemukan dengan proses penggalian (ekskavasi)
  • Koleksi historis: koleksi benda yang berhubungan atau pernah digunakan dalam peristiwa sejarah terkait suatu organisasi masyarakat dan tokoh sejarah
  • Koleksi numismatika atau heraldika: Numismatika adalah koleksi mata uang atau alat tukar yang sah yang pernah berlaku. Heraldika adalah koleksi berupa tanda jasa, lambang atau tanda pangkat resmi, termasuk cap dan stempel
  • Koleksi filologi: benda yang merupakan bagian dari disiplin ilmu geologi atau geografi yang meliputi batuan, mineral dan bentukan alam lainnya
  • Koleksi keramologi: koleksi benda yang terbuat dari tanah liat yang dibakar dengan suhu yang tinggi (keramik)
  • Koleksi seni rupa: benda bernilai seni tinggi, seperti lukisan
  • Koleksi teknologi: koleksi benda yang mewakili perkembangan teknologi dari tradisional sampai dengan modern

Museum buka setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 15.00. kecuali sabtu-minggu atau hari libr nasional lainnya, ya. Untuk masuk ke sini Readers akan membayar tiket yang tidak sebanding dengan semua wawasan yang Readers dapatkan di Museum Bengkulu, yakni reders cukup membayar Rp 5.000,- untuk dewasa dan Rp 3.000,- untuk anak-anak Sedangkan jika Readers datang berombongan dengan minimum 25 orang, Readers dan rombongan akan memperoleh potongan harga sebesar 50% per orangnya, loh. Di Museum Bengkulu, Readers tidak akan parkir sembarangan kok. Sebab staff Museum sudah memberikan area parkir yang cukup luas untuk para pengunjung dengan biaya parkir Rp 3000,- untuk motor dan Rp 5.000,- untuk mobil. Tersedia juga fasilitas umum berupa toilet yang bersih dan pusat informasi.