Rumah Fatmawati Bengkulu: Tempat Lahirnya Sang Saka Merah Putih

Selain pantai dan gunung, apa yang Readers ingin datangi jika sedang berlibur ke Bengkulu ? Sebagai informasi, banyak cagar budaya atau museum bersejarah di Bengkulu yang boleh sekali untuk Readers kunjungi. Nah, cagar budaya yang cukup terkenal dan kental akan sejarahnya adalah Rumah Fatmawati. Untuk studytour-pun, Bengkulu bisa menjadi pilihan, nih. Yang terpenting adalah , jangan sampai merusak fasilitas maupun isi dari cagar budaya, ya Readers.


Rumah Fatmawati adalah salah satu tempat bersejarah penting yang berada di Bengkulu, loh Readers dan masih sangat terawat sampai saat ini. Lokasi rumah ini berada di Jalan Fatmawati, Kelurahan Penurunan, Kecamatan Ratu Samban, kota Bengkulu. Nah, Rumah ini sangat menarik Readers, sebab rumah ini masih dilengkapi dengan berbagai ornamen asli, rumah yang berukuran 92 meter persegi ini pernah dibangun ulang namun masih mengikuti konstruksi aslinya, yaitu berbentuk panggung dan terbuat dari kayu. adapun beberapa perabotan yang ada yakni meja rias, tempat tidur, dan mesin jahit adalah peralatan asli. Siapa sih yang tidak tau jika Ibu Fatmawati adalah penjahit bendera sang saka merah putih. Namun apakah Readers tau bahwa sang saka ternyata di-'lahirkan' dirumah ini ? Menurut sejarah, mesin jahit yang di pamerkan di Rumah Fatmawati adalah mesin jahit yang di gunakan oleh Fatmawati untuk belajar bahkan sampai membuat bendera Merah Putih yang akan dikibarkan pada Proklamasi RI 17 Agustus 1945. 


eitss... tunggu dulu, ternyata Rumah Fatmawati ini tidak sekedar berisi tentang tempat tinggal kediaman Ibu Fatmawati yang berada di Bengkulu saja. Sebab, ada beberapa aset sejarah yang bercerita banyak tentang hadirnya Bung Karno di masa pengasingannya dulu, lokasinya pun tak terlalu jauh dari rumah ini, jaraknya hany sekitar 200 meter saja, loh Readers. Nah, dulunya pada tahun 1915, ini adalah rumah tinggal kedua orang tua Fatmawati yang kemudian beralih fungsi menjadi rumah menjadi museum Fatmawati pada tahun 1990-an. Rumah ini sempat sekali direnovasi total pada tahun 1990-an. Namun, untuk selebihnya, PEMDA Bengkulu hanya melakukan pemeliharaan saja hingga kini.


Rumah yang berdiri kokoh di atas tanah 500 meter persegi ini mengusuk tipologi rumah adat Bumbungan Lima, sehingga arsitektur ini tersusun dengan cara mengekspresikan harmoni dari seluruh aspek rumah adat Bumbungan Lima. selain itu, rumah Fatmawati juga memiliki ciri khas unik, yakni berupa ornamen yang mempunyai motif yang berbeda jenisnya. Motif tersebut ialah motif Pucuk Rebung, motif Lebah Bergayut, dan motif Bunga Soraja, seperti motif juga memiliki arti yang berbeda seperti motif Lebah Bergayut yang memiliki makna sikap rela berkorban dan tidak mementingkan diri sendiri, lalu ada motif Pucuk Rebung yang berari makna sebuah, pertumbuhan yang kokoh dalam suatu persatuan dan motif Bunga Soraja mempunyai makna selalu bersyukur atas kelebihan maupun kekuranga yang dimiliki. Duh.. filosofi yang sangat menarikkan, Readers.


Selama dirumah ini, Readers akan merasakan kilas balik ke tahun 1990-an, dimana ibu negara masih hidup, sebab semua kenangan di dalam setiap barang masih terasa sangat hangat. Adapun rumah berdinding kayu berwarna coklat sedikit terang ini memiliki empat ruangan meliputi, satu ruangan utama yang berisikan foto-foto Fatmawati bersama dengan Bung Karno tak lupa juga dengan anak-anak mereka, yaitu Guntur, Megawati, Rachmawati, Sukmawati, dan Guruh. kemudian ada juga, foto Fatmawati ketika melakukan berbagai kunjungan kenegaraan, dua kamar dan ruangan lain di bagian belakang. Kemudian, di halaman depan rumah terdapat patung kepala Ibu Fatmawati, sebagai simbolis jika rumah pemilik rumah itu adalah ibu Fatmawati.


Fatmawati mulai merasakan pendidikan formal saat berusia 6 tahun di sekolah formal Angka II selama satu tahun. Kemudian pada tahun 1930, Fatmawati pindah ke Sekolah Angka I yang dikenal sebagai Hollandsch Inlandsche School (HIS) di Jalan Peramuan, karena ekonomi, orang tua Fatmawati akhirnya pindah ke Palembang ketika Fatmawati berada di kelas empat. Fatmawati kemudian bersekolah di Hollandsch Inlandsche School (HIS) Muhammadiyah di Bukit Kecil. Selama mengikuti sekolah baru, Fatmawati menerima pelajaran tambahan seperti menjahit, mengatur meja makan, dan memasak selain pelajaran umum. Namun hanya selang setahun tinggal di Palembang, saat Fatmawati duduk di kelas lima, keluarganya pindah ke Curup. Terjadilah sedikit 'gejolak' disini, sesaat pindah ke curup ternyata tempat tinggalnya jauh dari kota dan sekolah, ditambah kondisi ekonomi yang kurang baik, membuat Fatmawati keci tidak bisa melanjutkan sekolah. Pada tanggal 14 Februari 1938, Soekarno tiba di Bengkulu dalam pengasingan bersama istri dan dua anak angkatnya. Disinilah, asal mula pertemuan Fatmawati dengan Soekarno berawal. Selam diasingkan di Bengkulu, Soekarno sempat mengajar di sekolah Muhammadiyah, dimana Fatmawati menjadi salah satu murid di sekolah tersebut. Soekarno melihat Fatmawati indah adalah anak yang pintar dan mampu memikat hati Soekarno.


Setelah pendekatan yang cukup rumit dan dramatis, akhirnya Soekarno mengirimkan telegram yang berbahasa jepang berisikan permintaan agar mereka menikah, diwakili oleh opseter Sarjono, dan Fatmawati segera berangkat ke Jakarta. Mereka menikah pada tanggal 1 juni 1943 dan di karuniai 5 orang anak.

Jika Readers ingin kesini, Readers bisa menggunakan kendaraan Pribadi maupun kendaraan online/umum. Sebab, jalan yang akan Readers lewati sudah beraspal dan bagus. Adapun rute yang bisa Readers ambil untuk ke Rumah Fatmawati ini adalah jika Readers berangkat dari Kota Bengkulu, silahkan Readers mengambil arah barat di Jl. Jendral Sudirman menuju Jl. Sudirman II. Kemudian, Readers akan melewati Dinas Sosial Kota Bengkulu yang terletak di sebelah kanan jalan dengan belok ke kiri menuju Jl. Letkol Sentosa. Lalu, belok ke kanan untuk tetap berada di Jl. Letkol Sentosa. Kemudian, belok ke kiri menuju Jl. Soekarno Hatta. Jangan lupa untuk belok sedikit ke kanan menuju Jl. Ratu Agung. Terakhir, belok ke kiri setelah Readers melewati Bumi Cellular maka tujuan Readers berada di tepat di sebelah kiri jalan. Nah, waktu yang Readers tempuh untuk sampai kesini adalah sekitar 7 menit dengan jarak 2,9 kilometer. Dekat, bukan.


Rumah Fatmawati ini buka setiap hari di pukul 08.00-17.00 WIB dengan harga tiket Rp 10.000/orang. Kemudian Readers wajib membayar uang parkir, ya. Untuk mobil akan dikenakan tarif sebesar Rp 5.000 dan untuk motor Readers akan membayar Rp 2.000 saja. Meskipun halaman samping Rumah Fatmawati ini luas, tapi tidak di perbolehkan untuk parkir disana, loh ReadersReaders akan parkir di luar gerbang yang telah disediakan lahan untuk parkir khusus pengunjung. Rumah Fatmawati di lengkapi dengan berbagai macam fasilitas umum seperti toilet, pusat informasi dan tempat sampah yang di taruh di berbagai titik untuk mencegah para pengunjung membuang sampah sembarang. 


Jadi selain berlibur ke Bengkulu, tidak salahnya juga jika Readers mampir ke cagar budaya Rumah Fatmawati untuk kembali mengingat jasa luar biasa istri presiden pertama di Indonesa ini. Belajarpun tidak melulu tentang buku ya Readers, terkadang praktik atau terjun kelapangan pun dibutuhkan dalam belajar. Selamat berlibur dan Happy weekend .