Sepenggal Cerita Rumah Pengasingan Bung Karno di Bumi Rafflesia, Bengkulu

 Bumi Rafflesia. Merupakan salah satu provinsi di pulau Sumatera yang penuh akan kisah di zaman penjajah. Inggris, Belanda hingga Jepang pernah menapakkan kaki di sini. Tak heran, dari puluhan bahkan ratusan pahlawan Nasional yang kita kenal, terdapat pahlawan hebat yang berasal dari Bengkulu. Hal ini wajar, karena mengingat Bung Karno pernah mendiami bumi Rafflesia. Bahkan, hanya dalam hitungan  beberapa tahun saja, Bung Karno mampu membakar habis semangat para patriot untuk semakin menginginkan kemerdekaan Indonesia.


Seperti apa kisah Bung Karno di bumi Rafflesia, inilah sepenggal cerita rumah pengasingan Bung Karno di Bengkulu.


Awal mula Bung Karno diasingkan adalah agar tidak bisa berkembang, dan hal ini terbukti dari tempat-tempat pengasingan yang Koloni berikan kepada Bung Karno adalah tempat yang terpencil dan sulit untuk di akses. Setelah sempat diasingkan ke Ende, Nusa Tenggara Timur.Keputusan memindahkan Bung Karno ke Bengkulu dibuat oleh Dewan Rakyat atas 'ributnya' desakan dari M. Husni Thamrin yang sangat khawatir dengan keadaan Bung Karno karena rumornya pada saat itu Bung Karno terserang malaria selama di Ende. Tidak langsung menuju Bengkulu, Bung Karno terlebih dahulu menaiki kapal menuju Pulau Jawa untuk bertemu dengan istri dan anaknya yang juga akan ikut  ke Bengkulu . Bung Karno kemudian dipindahkan ke Bengkulu pada 1938. 


Sebagai seorang yang memakai status sebagai tahanan politik pemerintah kolonial Belanda, Bung Karno harus mengurus sendiri semua keperluannya dan Beliau hanya mendapatkan tujangan bulanan sebesar 150 Gulden. Nah,Sebelum mendapatkan rumah untuk Ia dan keluarga tinggali, Bung Karno terlebih dahulu mencari penginapan begitu sampai di Bengkulu. Penginapan itu bernama Hotel Centrum. Kemudian, Bung Karno menemukan sebuah rumah yang terletak di kampung bernama Anggut Atas. Rumah itu nampak dalam keadaan kosong tidak berpenghuni, dengan halaman yang cukup luas berbentuk limas dan bangunan persegi panjang yang sukses mencuri hatinya. Ir.Soekarno tiba di Bengkulu pada bulan ke-dua di tahun 1938. Pada saat itu, statusnya adalah sebagai tahanan politik pemerintah kolonial Belanda. Akhirnya, Ir.Soekarno mendiami rumah itu dengan cara di sewakan oleh Pemerintah Belanda. Pemilik rumah itu adalah seorang pedagang Tionghoa yang bernama Lion Bwe Seng. Rumah itu sangatlah unik, sebab rumahnya memiliki gaya asitektur campuran antara Eropa dan Cina yang dibangun oleh Tjang Tjeng Kwai, seorang penyalur bahan pokok untuk keperluan pemerintah kolonial Belanda di Bengkul. Memiliki luas sekitar 165 m2 dengan ukuran bangunan 9X18 meter, rumahnya berbentuk persegi panjang dan atapnya berbentuk limas. Rumah ini ternyata sudah cukup tua, loh Readers karena dibangun pada tahun 1918.


Bangunan rumah utama atau bangunan induk berada di tengah-tengah halaman, dilengkapi paviliun di belakangnya. Rumah ini sangat klasik, memiliki dinding polos serta pintu dan jendela berdaun ganda khas rumah Eropa. Jika Readers kesini, Readers akan melihat Pada bagian dalam rumah utama, terdapat dua kamar tidur di sisi kanan dan tiga kamar tidur di sisi kiri. kemudian di bagian kanannya readers akan melihat bangunan yang terdiri atas lima petak yang memanjang ke belakang. Bangunan yang Readers lihat itu memuat kamar mandi, gudang, dan dapur. Kemudian, jika Readers berjalan ke belakang rumah, Readers akan menjumpai sebuah sumur tua. Rumornya adalah air dari sumur itu dapat membuat wajah seseorang awet muda. Selain itu, air sumur tersebut juga dipercaya bisa mendatangkan jodoh.


Rumah pengasingan Bung Karno ini berlokasi di Jalan Soekarno Hatta No. 8, Kelurahan Anggut Atas, Kecamatan Gading Cempaka, Kota Bengkulu. Jaraknya sekitar 14 kilometer dari Bandara Fatmawati Soekarno Bengkulu. Selama menjalani masa pengasingan di Bengkulu, Beliau tidak sendiri di Bengkulu,Ir. Soekarno ditemani sang istri, Inggit Garnasih dan anak angkatnya Ratna Djuami. Pola gerak Bung Karno sangatlah 'sempit' selama di Bengkulu, sebab Ia selalu diawasi oleh polisi Belanda sekalipun Ia sedang berkenalan dengan masyarakat sekitar hingga mencatat tamu yang datang ke kediaman Soekarno. M. Ali Chanafiah dan Salmiah Pane adalah beberapa orang yang sering berkunjung ke kediaman Bung Karno tersebut.


Di dalam rumah pengasingan Bung Karno ini, Readers akan melihat beberapa peninggalan tua seperti terdapat satu unit sepeda ontel, satu set kursi yang terletak di ruang tamu, lemari makan, surat cinta Bung Karno untuk Fatmawati, meja rias dan ranjang besi yang terdapat di kamar Bung Karno. Nah, jangan lupakan ada banyak buku dengan Bahasa Belanda yang terpajang di ruang kerja Bung Karno, pakaian, dan beberapa koleksi foto yang menghiasi hampir seluruh bagian ruangan. Sepeda ontel yang di pamerkan di rumah pengasingan adalah sepeda yang sedia setia saat dalam menemani Bung Karno berkeliling dan menikmati suasana serta pemandangan di sekitar Kota Bengkulu. Namun lagi-lagi, dengan dalih bahwa dirinya adalah seorang tahanan politik, pemerintah Belanda sampai harus mengeluarkan peraturan khusus yang sangat menggelikan, yakni mencegah Soekarno membonceng orang-orang dengan sepedanya. Tujuan dari peraturan khusus yang dikeluarkan ini tak lain sebab pemerintah Belanda tidak ingin Soekarno membonceng orang dengan sepedanya yang dianggap dapat membahayakan Soekarno dan orang yang diboncengnya.

 

Selama mendiami rumah pengasingan, Bung Karno memanfaatkan rumah tersebut bukan sekadar tempat tinggal semata, loh Readers.  Ia sering kali menggelar pertemuan dengan tokoh-tokoh masyarakat Bengkulu seperti tokoh Muhammadiyah Bengkulu Hassan Din, dan lain sebagainya. Selama masa pengasingan di Bengkulu, Soekarno banyak aktif di kegiatan Muhammadiyah bersama berbagai tokoh. Bung Karno banyak menjadi penggerak dalam pembangunan masjid di Bengkulu.

Banyak hal yang beliau lakukan saat di Bengkulu, Seperti Bung Karno sangat ingin merenovasi sebuah masjid yang saat ini dikenal sebagai Masjid Jamik Bengkulu. Namun, Soekarno Malah mendapat  respon negatif dan kurang menyenangkan dari golongan tua yang tidak ingin ada perubahan apapun dimasjid itu. Lalu, Soekarno juga membentuk grup pertunjukan seni musik dan drama bernama Monte Carlo, nih. Di grup ini, Soekarno bahkan menulis naskah grup sandiwara untuk mendidik dan memotivasi rakyat, loh Readers


Setelah Bung Karno pulang dan rumah itu tidak lagi dihuni, rumah pengasingan Bung Karno kemudian beralih fungsi untuk berbagai kegiatan. Mulai dari markas perjuangan PRI, rumah tinggal AURI, stasiun RRI, hingga kantor pengurus KNPI Dati I dan Dati II. Hingga akhirnya, bangunan tua bergaya campuran Eropa dan Cina itu ditetapkan sebagai cagar budaya sejak tahun 2004 oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, dengan Nomor SK KM.10/PW.007/MKP/2004. Kemudian pada 29 Desember 2017, rumah pengasingan Bung Karno saat ini dimiliki oleh keluarga Alm. Ki Agus Husin yang dikelola oleh Dinas Pariwisara Provinsi Bengkulu dan ditetapkan sebagai Cagar Budaya Berperingkat Nasional.Saat ini, rumah tersebut difungsikan sebagai museum dan objek wisata sejarah, loh Readers.


Rumah Pengasingan Bung Karno buka disetiap harinya, ya Readers. Buka pukul 8.00-17.00 WIB. Untuk kesini, Readers hanya perlu mengeluarkanbudget sebesar Rp 3.000 per orang. Namun, harga tiket dan jam operasional bisa berubah sewaktu-waktu. Untuk itu, pastikan dulu informasi tersebut sebelum berkunjung ke sana, ya.

Jadi ayo liburan sambil bermain di Bengkulu Readers. Pelajari nilai historis langsung dari tempatnya agar Readers bisa merasakan atmosfer kegigihan dan berani yang terpatri di rumah pengasingan Bung Karno. Happy Weekend and see yaa....