Sepenggal Kisah dari Panglima Perang Tanah Jawa Untuk Bumi Rafflesia : Makam Sentot Ali Basyah Bengkulu

Bumi Rafflesia, adalah salah satu wilayah yang sempat disinggahi oleh Belanda. Para koloni Belanda menjajah Bengkulu selama 5 tahun. Meskipun hanya lima tahun, namun penduduk Bengkulu sangatlah tertekan sebab tidak pernah merasa aman akan kehadiran Belanda. Namun, sebelum Belanda berhasil menjajah Bengkulu, terlebih dahulu penjajah Inggris yang menduduki Bengkulu. Belanda bisa menginjakkan kaki di Bengkulu bukan tanpa alasan, ya Readers. Sebab, terjadinya pertukaran karena sebuah perjanjian London (Treaty Of London) yang di tanda tangani pada tanggal 17 Maret 1824 oleh kedua belah pihak, kemudian di pelaksanaan penyerahannya itu pada tanggal 06 April 1825, yang berisi Inggris melepaskan semua daerah kekuasaan nya dan menyerahkan Bengkulu pada pihak Belanda. Sebagai penukaran nya Belanda mmenyerahkan Singapore.


Banyak kekacauan yang berkedok sebuah kebijakan yang membuat para penduduk asli Bengkulu meradang namun tak bisa berbuat apa-apa. Bukan hanya berlaku di Bengkulu, tapi Belanda juga menjalankan kebijakan ini di seluruh wilayah kekuasaannya. Kebijakan 'gila' itu seperti sistem kolonial yang berdasaarkan pada penguasaan, keunggulan militer, dan politik mendapatkan keuntungan ekonomi yang sebesar-besarnya. Akibat kebijakan ini menyebabkan Seorang Panglima perang hebat asal tanah Jawa di asingkan di Bengkulu. Meskipun diasingkan, panglima perang yang bernama Sentot Ali Basyah itu diminta oleh Belanda untuk membantu serdadu Belanda melawan Kaum Paderi yang memberontak di Sumatera Barat. Karena tak ingin di perbudak, sewaktu di Sumatera, ia secara diam-diam melakukan siasat kerja sama dengan Imam Bonjol dan pasukannya. Hal itu diketahui Belanda dan membuat ia kembali dipanggil ke Batavia untuk selanjutnya menjalani masa pembuangan di Bengkulu. Sampai akhir hayat, Beliau banyak mengajarkan akidah-akidah islam kepada masyarakat Bengkulu.


Sepeninggalannya, penduduk Bengkulu yang sangat mencintainya membangun sebuah makam untuk Sentot Ali Basyah. Makan ini dibangun dengan sangat istimewa sebab beliau adala salah satu tokoh yang menyebarkan akidah-akidah islam pada masyarakat Bengkulu, ya Readers. Sebenarnya, makam Sentot Ali Basyah juga terletak di kompleks pemakaman umum, namun yang membuatnya istimewa adalah makam Sentot Ali Basyah ini berdiri kokoh dengan di kelilingi pagar tembok dan berpintu besi. Saat Readers baru menginjakan kaki di di dekat pintu masuk, Readers akan di sambut dengan pintu gerbang seperti gapura bersar yang berbentuk kerucut dan saat didalamnya Readers akan melihat juga terdapat bangunan beratap (Cungkup) yang diatasnya dihiasi dengan sebuah pilar, dimana pilar itu juga tampak seperti pintu gerbang yang bisa dibuka dan ada ruang terbuka untuk para peziarah. 


Nah, apabila Readers ingin masuk ke cungkup, Readers harus melalui pintu gerbang utama, dimana gerbang utaman ini memiliki anak tangga dan ada sisi tangga. Bangunan cungkup ini berbentuk seperti 'Tabut'. Apakah Readers apa itu tabut ? Kata Tabut adalah resapan dari kata Arab yang secara harfiah berarti kotak kayu atau peti. Bangunan Tabut ini adalah suatu bangunan bertingkat-tingkat di lengkapi dengan lebar lantai dasar sekitar 1,5-3 meter dengan ketinggian 5-12 meter. Jika Readers ingin berzirah disini, makamnya berlokasi mudah untuk ditemui, ya. Karena, posisi makan ada berada di pinggir jalan namun tanpa tersedia parkiran. Sehingga Readers harus memarkirkan kendaraan di bahu jalan. Nama Sentot Ali Basyah yang tertera di atas nisan adalah KPH Alibascha Sentot Abdul Mustapa Prawirodirjo’, wafat 17 April 1885. Makan megah ini beralamatkan di Kelurahan Bajak, Teluk Segara, Kota Bengkulu. Readers bisa menggunakan kendaraan pribadi atau menggunakan trasportasi online yang tersebar luas di Kota Bengkulu, ya Readers. Sebagai bentuk cinta warga Bengkulu kepada Sentot Ali Basyah, akhirnya makam seorang panglima perang ini menjadi cagar budaya yang resmi di Bengkulu. Makam yang mempunyai ukuran kurang lebih 50 meter x 30 meter itu adalah pusat di TPU tersebut. Sebab, hanya makam sang panglima perang yang berdiri kokoh bak singgasana. D Yang unik dari posisi makam ini adalah TPU tempat dimana makam ini di dirikan, Readers akan menemukan orang yang berlalu lalang dengan santai. Hal ini dikarenakan tepat di seberang itu terdapat sebuah sekolah swasta. Di kanan kiri sekolah, ada para pedagang yang menjajakan dagangan yang menggiurkan. Belum lagi, kondisi jalan yang adalah jalan utama sebuah gang, ya Readers jadi jangan takut dengan presepsi bahwa kuburan itu angker dan menyeramkan, ya.


Salah satu alasan mengapa makam Sentot Ali Basyah dijadikan cagar budaya dan pahlawan di Bengkulu karena sosok Sentot Ali Basyah sudah sepatutnya dikenang dan dihargai oleh para generasi penerus bangsa agar mereka tidak melupakan pahlawannya, sebab bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya. Menjadikan sebuah makanm Sentot Ali Basyah menjadi cagar budaya pun tidak sembarang, nih Readers. Ada beberapa pertimbangan utama yang untuk memutuskan makam Sentot ini pantas atau tidaknya menjadi cagar budaya adalah sasaran program menghidupkan kembali budaya yang dilakukan oleh POLRI. Di antaranya adalah lantaran makam Sentot dianggap satu-satunya yang tak banyak diketahui oleh khalayak ramai, apalagi oleh para pelancong. Belum lagi keadaan makam yang kurang terawat menjadikan makam ini tidak menarik dimata para pelancong. Padahal Sentot Ali Basyahmerupakan bagian penting dari perjuangan Pangeran Diponegoro dalam perjuangan kemerdekaan.


Apakah reader spenasaran dengan sekilas cerita seberapa mengagumkannya panglima perang dari Tanah Jawa ini terdahulu ? Mari kita ulas, ya Readers.


Ali Basah Sentot Prawirodirjo (sekitar 1808-1855)  atau warga Bengkulu lebih kenal dengan nama Sentot Ali Pasha atau Sentot Ali Basha. Sentot Ali Basya Abdullah Mustafa Prawirodirjo adalah seorang panglima perang hebat pada masa Perang Diponegoro, loh Readers. Ia merupakan putra Raden Ronggo Prawirodirjo III yang merupakan seorang Bupati Wedana Madiun yang menjabat pada tahun 1796-1810, bersama seorang selir cantik yang bernama Nyi Mas Ajeng Genosari. Ayahnya Sentot merupakan ipar Sultan Hamengku Buwono IV. Sebagai seorang adik laki-laki dari istri sah kedua Pangeran Diponegoro yang bernama Raden Ayu Maduretno (sekitar 1798-1827), Sentot akhirnya ikut dengan keluarga Pangeran ke Tegalrejo setelah pernikahan kakak perempuannya dengan Pangeran Diponegoro pada 28 September 1814. Saat berusia 6 tahun, bukan hal yang mengherankan jika Sentot kecil lebih suka main di istal luas Pangeran dan senang menjadi pembalap kuda daripada menjadi seorang santri di sebuah pesantren seperti yang diinginkan oleh sang kakak ipar, Pangeran Diponegoro. Bermula dari kesukaannya berkuda, berhasil membuat seorang Sentot Ali Basyah terkenal dengan kemahiran dan sikap gesit Sentot selama menghadapi perang.  Dengan kemahirannya itu, Ia menjadi basah (komandan tentara) Pangeran Diponegoro yang terkenal sangat pemberani. Sebenarnya, alasan utama Sentot tidak ingin menjadi santri adalah karena ayahnya dianggap membangkang kepada Belanda yang berujung dengan terbunuh sang ayah di tangan penjajah Belanda yang saat itu dipimpin oleh Daendels. Sejak kematian ayahnya, Sentot Prawirodirdjo merasa dendam kepada Belanda sehingga akhirnya bergabung dengan Pangeran Diponegoro.


Awalnya, nama "Sentot" adalah nama samaran yang Ia gunakan untuk perang. Nama ini memiliki arti yang cukup kuat, yakni  "terbang" atau "melesat" ini pula merujuk pada karekter perilaku Sentot saat berada di medan perang. Sentot berarti meloloskan diri, melarikan diri, menarik diri, terbang, dan pada umumnya banyak penafsir menafsirkannya sebagai karakter yang tidak mudah dikenal, seseorang yang temperamennya rumit dan kompleks. Bahkan, Mayor de Stuers, seorang kolonel Belanda mengatakan bahwa selama perang Sentot adalah seseorang yang"muda", "berapi-rapi". Mayor Errembault memujinya sebagai; "pemimpin pemberontak yang memiliki keberanian dan cara berjuang yang terbaik. Dia telah membayar cukup sering dengan badannya sendiri, karena telah kerap kali menerima luka sejak awal perang".


Kemudian dengan nama Ali Basah adalah pangkat panglima komandan yang terinspirasi dari unit militer Dinasti Usmaniyah di Turki diberikan oleh Pangeran Diponegoro atas keberaniannya tersebut pada saat beliau baru saja berumur 17 tahun pada awal 1826. Menurut Sejarawan Peter Carey, Gelar "Ali Basah" kemungkinan diambil dari istilah Turki Utsmani "Ali Pasha" (Pasha yang Mulia) atau dari nama Muhammad Ali Pasha, penguasa Mesir (berkuasa 1805-1849), gubernur atau wakil (pasha) terkemuka kesultanan Turki Utsmani awal abad ke-19.


Namun semakin tinggi pohon akan semakin kuat pula angin menerpa. Hal ini terjadi di kekalahan besar yang menekan Sentot Ali Basyah untuk menyerah kepada Belanda. kekalahan besar yang menyayat hati itu terjadi pada 8 Januari 1829. Hingga di 16 Oktober 1829, Sentot akhirnya menyerah kepada Belanda. Ada beberapa rumor gencar mengatakan bahwa sebenarnya Sentot mengambil keuntungan pribadi dari kekalahan itu,namun ada pula yang menyebut kalau dia sudah tak sanggup melihat kondisi perekonomian rakyat yang selama perang menjadi penyuplai utama logistik. Hingga akhirnya Ia menjlani masa pengasingan selama 2 kali hingga akhir hayatnya meninggal di Bumi rafflesia.