Kisah Berdarah di Balik Megahnya Tugu Thomas Parr Bengkulu

Bagi masyarakat Kota Bengkulu, hampir sangat mustahil jika tidak mengetahui tugu Thomas Parr. Meskipun tidak tau dengan nama tugu ini, setidaknya masyarakat Kota Bengkulu hampir setiap hari melewati tugu ini. Tugu yang berada di alun-alun kota ini cukup unik dan menarik. Meskipun fungsi awalnya adalah kuburan, namun bangunanya tidak semenyeramkan itu. Nah, penasaran dengan ceritanya ? Maki kita kilas balik kisah terbangunnya tugu Thomas Parr ini.


Tugu Thomas Parr adalah sebuah monumen yang terletak di Bengkulu, yang didedikasikan kepada Thomas Parr, Residen Inggris di Bengkulu yang terbunuh pada 1807, dan dibangun tepat setelah setahun setelah kematiannya, saat ini bangunan tersebut dianggap sebagai cagar budaya oleh pemprov Bengkulu.


Thomas Parr. Ia adalah si penguasa Inggris yang dikenal angkuh dan ganas. Lahir di Wigan, Lancashire, Inggris, kemudian ditahun yang sama pula Thomas Parr dibaptis di tanggal 20 Maret 1768. Ayahnya adalah seorang Letkol bernama John Parr, yang merupakan anggota Resimen Infantri ke-20,  pada tahun 1782, ayahnya diangkat sebagai Gubernur Nova Scotia hingga ajalnya menjemput di tahun 1791. Keluarga Parr memanglah sangat sombong, hal ini terbukti saat ayah Parr mengatakan bahwasanya Ia adalah keturunan dari Sir William Parr, yang tak lain adalah saudara laki-laki dari Katherine Parr, yaitu salah satu istri Raja Henry VIII, loh readers.

Diusia muda, Parr bersekolah di Macclesfield School, kemudian Ia lulus di tahun 1783. Kemudian, dengan sangat cepat Thomas Parr berhasil menjadi pegawai sipil Perusahaan Hindia Timur Britania yang berlokasikan India. Setelah bertahun-tahun bekerja sebagai Pedagang Senior (Senior Merchant), ia kemudian ditunjuk menjadi Residen di Indonesia, tepatnya Ia ditugaskan di Bengkulu pada bulan April 1805. Guna memperbaiki keadaan di Bengkulu, sebab Perusahaan Hindia Timur Britania mendapat laporan internal bahwa mereka selalu mendapat kerugian yang cukup besar, yakni £87.000 per tahun. Angka yang lumayan besar untuk sebuah kerugian yang terus berulang, ya readers. Namun, ada juga yang mengatakan bahwa Thomas Parr datang ke Bengkulu sebagai bagian dari misi Inggris untuk mengepung Belanda dalam upaya merebut kembali Bengkulu.


Dengan perjalanan panjang dan melelahkan, pada akhirnya Thomas Parr tiba di Bengkulu melalui jalur laut. Hal pertama yang Parr lakukan adalah mengeluhkan kesulitan sebab kurangnya tenaga pegawai sipil di Benteng Marlborough. Kemudian, Ia berhasil menemukan praktik-praktik korupsi, kekerasan, dan penyalahgunaan wewenang yang dilakukan oleh anak buahnya di Silebar dan Pulau Baai, ada kuga  pengabaian pajak lada yang sebenarnya adalah hak dari Sultan Muko-muko. Untuk menutup kerugian,  Thomas Parr mulai merubah pola kerja, kebijakan yang Ia terapkan berupa kerja rodi dan sistem tanam paksa. Ia mengkhususkan penanaman tanaman pala dan cengkeh untuk Inggris, sedangkan rakyat pribumi diharuskan untuk menanam kopi. Dari sinilah awal mula timbulnya ketidakpuasan rakyat dengan kebijakan yang Thomas Parr berikan. Sebab, Thomas Parr merupakan orang pertama yang memperkenalkan sistem tanam paksa di Bengkulu. Di tanggal 1 September 1978 di Benteng William, Kalkuta, Thomas Parr menikahi seorang wanita cantik yang bernama Frances Roworth. Frances adalah saudara perempuan dari Thomas Roworth, seorang pedagang kaya di Benggala. Dimana mereka berdua akhirnya memiliki keturunan yakni  Frances Harriet Goodla(n)d Parr, Thomas Clement Parr, Emily Ann Parr dan William Parr.


Thomas Parr adalah orang yang cukup licik dalam bermain strategi demi meningkatkan pundi keuntungan, seperti mengurangi jumlah pegawai, tidak memperdulikan nasihat dari siapapun, sekalipun para kepala adat dan bangsawan setempat lainnya yang telah lama menjalin hubungan dengan Inggris. Dengan sombongnya, Thomas Parr mengubah cara kerja mengenai hak pribumi tanpa persetujuan maupun nasihat dari pihak pribumi. Tanpa Thomas sadari bahwasanya krisis kepercayaan antar bangsa sudah sangat meluap. Bahkan simpang siur mulai beredar kabar bahwa rakyat telah siap untuk melakukan pemberontak, tapi terlalu ibuk untuk menyadari bahaya yang mengancamnya.


Puncaknya adalah di malam tanggal 23 Desember 1807,Thomas Parr mati terbunuh dengan terpenggalnya kepala di kamar tidurnya. Ia mendapatkan serangan mendadak oleh sekelompok orang yang tak dikenal. Istrinya, Frances Parr ikut serta pula asistennya yang bernama Charles Murray juga terluka secara mentah sebab berusaha sekuat tenaga melindungi Parr dalam serangan tersebut. Namun na'asnya, Charles Murray pun akhirnya menghebuskan nafas terakhirnya di beberapa hari kemudian. Mereka dimakamkan secara berdampingan di area Benteng Marlborough. Sebab peristiwa pembunuhan tersebut yang sebenarnya adalah otak dari perbuatan Thomas Pass itu sendiri-pun akhirnya dimuat  dalam surat kabar Inggris, namun tentunya di bumbui sedikit dengan aksen yang begitu problematik saat itu. Melihat keadaan yang mulai kacau, di bawah pimpinan Kapten James Templer Parlby akhirnya mengirimkan dua Resimen Marinir Benggala untuk mengamankan keadaan. saat itu, Kampung-kampung pribumi digeledah, para tersangka pelaku dihukumi gantung atau dengan sadisnya diledakkan dengan tembakan meriam.


Karena takut kejadian yang berlanjut, akhirnya Frances Parr dan anak terkecilnya William memutuskan untuk meninggalkan Bengkulu dan tiba di Kalkuta pada bulan Maret 1808. Disini, Frances mengadukan kecurigaannya dengan salah seorang asisten Parr yang saat itu juga berada di Mount Felix, namun berhasil selamat tanpa luka-luka. Setelahnya, Frances dan anaknya kembali berlayar menuju Inggris pada 1808 atau 1809, namun sayangnya mereka tidak pernah mencapai tujuannya. Catatan Perusahaan Hindia Timur Belanda tahun 1810 menyebutkan bahwa kapal yang mereka tumpangi kemungkinan besar hilang di lautan karena sekian lama tidak terdengar beritanya.


Ada kesenjangan diantara penafsiran mengenai tugu Thomas Parr ini, jika dari sudut pandang pihak Inggris, tugu ini dibangun sebagai bentuk penghargaan bagi Thomas Parr. Namun sebaliknya, rakyat Bengkulu berpendapat bahwa tugu megah ini didedikasikan untuk para pejuang tak dikenal yang gugur dalam membela serta mempertahankan hak dan kemerdekaan tanah leluhurnya dari penindasan kolonial Inggris. Selain namanya tugu Thomas Parr, warga lokal lebih suka menyebut tugu ini sebagai  Kuburan Bulek (bulat) karena berbentuk bulat. Karakteristik bangunan ini layaknya seperti tugu yang memiliki ruangan dengan tiga buah pintu masuk berbentuk setengah lingkaran. Lalu di bagian atasnya ada enam buah pilar yang terdapat di sudut-sudut bangunan berbentuk segi delapan. Selain itu juga memiliki tangga naik yang berlantai ubin berwarna merah di seluruh bagian kaki bangunan. Salah satu dinding di ruang dalam tugu ada sebuah prasasti, meski saat kini sudah tidak dapat dibaca lagi.


Untuk mencapai tugu Thomas Parr tidaklah sulit, sebab jika readers berangat dari Kota Bengkulu, readers hanya menempuh jarak 1,3 kilometer dalam waktu sekitar 2 menit perjalanan. Namun, jika readers berangkat dari Bandara Fatmawati Bengkulu rutenya berupa ambil Jalan Depati Payung Negara/Jalan Lintas Barat Sumatera lalu ikuti Jalan Lintas Barat Sumatera ke Jalan Letjen Suprapto/Jalan Mayjend Suprapto di turunan lalu tetap di Jalan Letjen Suprapto. Kemudian ambil Jalan Jendral Sudirman dan Jalan A Yani ke Jalan Mazairi di Malabero.


Di sekitar  Tugu Thomas Parr, terdapat taman yang cukup indah, area rekreasi yang menarik untuk dinikmati oleh pengunjung. Karena tugu ini dekat dengan Benteng Marlborough, para pelancong dapat berjalan-jalan di sekitar taman, bersantai, dan menikmati suasana yang ramai. Sebab, Tugu Thomas Parr ini berdiri di alun-alun Kota Bengkulu. Jangan lupakan untuk berwisata kuliner. Banyak para pedagang yang menyajikan hidangan lezat, mulai dari camilan hingga makanan beratpun tersedia disini. Harga yang murah dan inovatif sangat menarik untuk readers icipi.


Sebagai cagar budaya, tugu Thomas Parr salah satu ikonik dan simbol perjuangan hebat di masa lalu,  Tugu Thomas Parr juga merupakan bagian penting dari identitas Bengkulu sebagai sebuah kota yang bertabur ssejarah di Indonesia. Monumen ini mengingatkan kita tentang bagaimana  Bengkulu telah berperan cukup aktif dan penting dalam sejarah perdagangan internasional dan hubungan diplomatik antara bangsa-bangsa pada masa kolonial.  Tugu Thomas Parr merupakan bukti nyata dari keberanian dan keteguhan hati tokoh sejarah dalam memperjuangkan kepentingan bangsa dan negara. Melalui monumen ini, kita dapat menghargai jasa-jasa para pahlawan masa lalu dan mengenang perjuangan mereka untuk kemerdekaan dan kemajuan bangsa.