Tampilkan postingan dengan label meriam honisuit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label meriam honisuit. Tampilkan semua postingan

Cikal Bakal Tugu Meriam Honisuit yang Berdiri Gagah di Kabupaten Kota Manna, Bengkulu Selatan

Selain pantai yang sangat cantik, Bengkulu Selatan juga menyimpan banyak sejarah didalamnya. Bengkulu Selatan juga sering menjadi basecamp para penjajah di zaman dahulu sebab memiliki lokasi yang cukup strategis, nih. Terbukti dengan hadirnya Meriam Honisuit yang berdiri kokoh di tengah Kabupaten kota Manna, Bengkulu Selatan. Apabila Readers sedang dalam perjalanan menuju Lampung-Bengkulu-Pagaralam atau sebaliknya, sempatkan diri untuk mampir dan berfoto ria di Icon Kabupaten Kota Manna ini. Namun, apakah Readers tau asal usul Meriam yang ada di sini ? Mari kita bahas bersama.


Meriam Honisuit merupakan salah satu dari sekian banyaknya senjata yang dibawa oleh Jepang ke Bengkulu. Senjata buatan inggris ini dibawa oleh Jepang dari Singapura dan masuk ke Indonesia, lalu melalui jalur darat untuk menjajah Kabupaten Bengkulu Selatan, Provinsi Bengkulu. Setelah berhasil merebut Indonesia dari Belanda, Jepang turut menguasai Bengkulu Selatan di tanggal 24 Februari 1942. Pemimpin yang membawa angkatan tentara jepang untuk masuk ke Bengkulu ini bernama Kolonel Kangki. 


Tak tanggung-tanggung, Ia membawa beberapa mobil baja, truk militer beserta alat-alat senjata untuk menekan pemberontakan dari masyarakat setempat. Setelah kabar kedatangan Jepang berhembus kencang di Bengkulu, kalangan masyarakat dari semua golongan baik kaum politisi, tua, muda dan anak-anak berbaris rapi menyambut kedatangan Jepang tersebut dengan penuh sukacita. Sebab, seperti yang sudah Kita ketahui bahwa Jepang sudah berhasil menarik simpati dari masyarakat Indonesia dengan mengatakan bahwa Jepang mengaku bahwa Jepang adalah saudara tua bangsa Indonesia, loh Readers. Jepang berkata bahwa mereka datang untuk melepaskan Indonesia dari belenggu penjajahan Belanda. Kemudian memberikan janji kemudahan bagi bangsa Indonesia seperti, menunaikan ibadah haji dan menjual barang dengan harga murah.

Namun berbagai reaksi yang Jepang dapat, seperti ada sebagian rakyat yang hanya menonton saja, sebab mereka tidak paham mengenai politik dan hal yang akan terjadi. Adapula rakyat yang cemas dan takut, sebab mereka berpikir bahwa Jepang sama dengan penjajahan Belanda sebelumnya. Setelahnya diterima baik dengan masyarakat, Di sepanjang tahun 1942, Jepang mulai melancarkan aksi penjajahannya di Bengkulu Selatan, kemudian perlahan namun pasti, Jepang memperluas daerah kekuasaan, seperti Bengkulu Utara, Bengkulu Selatan, Pagar Alam dan Tanjung Sakti, ya Readers.


Setelah sampai, Meriam ini langsung tentara Jepang letakkan di Kelurahan Belakang Gedung Kecamatan Pasar Manna Kabupaten Bengkulu Selatan. Tujuannya adalah untuk pertahanan tentara Jepang dari ancaman laut oleh musuh. Bentuk fisik dari Meriam Honisuit ini adalah memiliki warna coklat tua dan tentu saja Meriam ini terbuat dari logam besi. Meriam memiliki panjang laras sekitar 3,4 meter. Bobot meriam mencapai 2,2 ton dengan kaliber 19,01 cm. Mereka menempatkan meriam tersebut di daerah pantai dengan posisi moncong meriam (Mouzzle Mouldings) mengarah langsung ke laut Samudera Indonesia, loh Readers. Ada juga beberapa meriam lain yang memiliki lebih dari tiga laras (multi laras), namun saat ini tidak ditemukan lagi dimana letak meriam tersebut.Meriam Hunisuit ini di gadang-gadang merupakan meriam terbesar kedua di Asia, dan terbesar nomor satu se-Asia Tenggara, loh Readers. Yang apabila meriam ini menembak, maka penduduk satu kota Manna-pun akan mendengar suara letusannya, Readers.


Setelah kekalahan Jepang dan meninggalkan Bengkulu Selatan, Jepang tidak menarik semua senjatanya dan salah satunya adalah meriam besar ini, ya Readers. Sehingga Meriam Honisuit ini di tinggalkan begitu saja oleh tentara Jepang. Sepeniggalkannya, meriam yang tadinya berada di sekitar pantai pasar bawah, sekarang di pindahkan ke Bundaran Jl. Raya Padang Panjang Manna Bengkulu Selatan atau Bundaran Depan Kantor Bupati, nih Readers. Alasannyan adalah karena dahul ketika di tempatkan, Meriam Honisoit terletak ± 20 m dari tepi Samudera Indonesia, dimana tepi samudera Indonesia ini  adalah tebing-tebing yang lumayan curam, mengingat kemungkinan abrasi cukup besar, akhirnya meriam dipindahkan sejauh 35 m dari tempat asalnya. Terjadi diskusi yang cukup panjang antara Pemerintah Daerah Bengkulu Selatan dengan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jambi (BP3 Jambi) atau sekarang  dikenal BPCB Jambi (Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jambi) tentang kemungkinan terburuk yang akan menimpa Meriam bersejarah ini ,yakni berupa kemungkinan akan jatuh ke laut apabila tidak dilakukan penanganan sesegera mungkin. Akhirnya di tanggal 10 Januari 2008, Meriam Honisuit berhasil dipindahkan oleh KODIM 0408/BS ke Bundaran JL. Raya Padang Panjang Manna, Bengkulu Selatan. Atas kejadian ini, Meriam honisuit tercatat dalam sejarah bahwa pemindahan meriam Honisoit pernah terjadi sebanyak 2 kali. Pemindahan pertama dilakukan pada tahun 1990-an dan yang kedua pada tahun 2008.


Sekarang, meriam Tua ini telah di abadikan kemudian tak lupa pula di pamerkan sebagai salah satu icon wisata Bengkulu Selatan, nih Readers. Meriam gagah ini menduduki sebuah tugu Bundaran JL. Raya Padang Panjang Manna tak jarang membuat para pelancong penasaran dan akhirnya berhenti untuk mengunjungi Meriam Honisuit ini, banyak pula pelancong yang berfoto selfie maupun bersama keluarga. Dikarenakan telah menjadi icon wisata di Bengkulu Selatan, akhirnya banyak warga lokal yng mencari nafkah dari icon pariwisata ini. Salah satu nafkah yang dilakoni oleh penduduk lokal adalah, mereka membuat  kerajinan tangan berbentuk souvenir, kaos bergambar, atau miniatur yang berbau dengan meriam.


Apabila Readers ingin bermain kesini, Readers bisa melakukan perjalan dari Kota Bengkulu dengan jarak perjalanan sekitar 141,6km atau sekitar 3-4 jam menggunakan motor maupun mobil, ya Readers. Perjalananpun bisa Readers tempuh dengan mudah, sebab jalur lintasnya terpantau bagus beraspal. Nah, saat melakukan kunjungan ke wisata ini, ada baiknya jika Readers mengikuti beberapa tips yang akan writer berikan agar selama berada di sekitar kawasan objek wisata ini Readers akan merasa nyaman, apa saja tips-nya, ya ? Mari kita bahas bersama :

  • Jangan Membuang Sampah Sembarangan : Ini adalah hal utama yang harus Readers lakukan, ya. Sebagai seorang pelancong, Readers harus melakukan hal ini, membuang sampah tepat pada tempatnya.Sebab, sampah sering kali menjadi persoalan yang sangat mengganggu pelancong yang lain sehingga perlu penanganan khusus. Jadi, jika datang kesini dan membawa makanan atau minuman yang memiliki kemasan sekali pakai usahakan untuk membuang sampah pada tempatnya, ya Readers. Namun, apabila Readers tidak menemui kotak sampah di sini, silahkan Readers masukkan sampah ke kantong plastik dulu, lalu nanti buang di tempat sampah yang telah disediakan, ya.
  • Mencorat-coret :Ini benar-benar tindakan yang tidak patut untuk di lakukan, ya Readers. Tindakan mencorat-coret membuat tempat wisata menjadi terlihat kotor dan jorok. Ditambah, jika pelancong melihat meriam yang menjadi icon Kota Manna ini penuh dengan coretan, pelancong menjadi tidak minat untuk mendatangi icon Kota Manna ini.
  • Tindakan Asusila : Hayo, ini hal yang sering terjadi, ya. Tidak siang tidak malam kejadian banyak dilakukan olah segelintir orang. Hargai nilai sejarah yang di tinggalkan oleh Meriam yang gagah ini, ya.
Semoga tips dan informasi mengenai meriam Honisuit tadi bisa Readers terapkan baik saat mengunjungi Meriam Honisuit ini maupun icon wisata bersejarah lainnya. Jangan lupa mampir untuk menghabiskan waktu di tugu bersejarah ini , ya Readers. Happy weekend and see yaa..